Hasil dari Book Report Sistem Politik Indonesia : suatu model pengantar karangan Dr. Rusadi Kantaprawira (1988). Tentang peristilahan Sistem Politik (di) Indonesia. sebenarnya saya terpaksa nulis ini karena ini tugas akhir Uas, Males abis kalau disuruh ngerjain tugas. seperti pepatah dot com atau apalah yaitu "jangan pernah ngerjain tugas biar tugas yang ngerjain kita". semoga pengantar ini tidak membuat kalian mengurungkan niat untuk membaca isinya. penting loh isinya menambah pengetahuan kita, gak seperti pengantar di atas garing abiss.
Ok lanjut, intinya adalah :
Istilah sistem politik Indonesia ada dua pengertian yang hidup di dua kalangan yang berbeda. Yang pertama ialah sistem politik Indonesia dan istilah yang kedua yaitu sistem politik di Indonesia.
Kedua peristilahan ini di satu pihak sering dipersamakan atau disenafaskan, tetapi di lain pihak sering pula dibedakan secara tegas. Istilah sistem politik Indonesia sudah umum dipergunakan di kalangan dunia universitas sedangkan sistem politik di Indonesia, sepanjang diketahui penulis, dipergunakan di lembaga pendidikan militer seperti SESKOAD dan lain-lain.
Sistem politik Indonesia tiada lain ialah sistem politik yang berlaku di Indonesia. dalam hal ini, kata “Indonesia” pemberi sifat dan kekhasan kepada suatu sistem politik tertentu.
Kata penghubung “di” dalam sistem politik di Indonesia tersebut dapat menunjuk suatu sistem:
1. Yang pernah berlaku di Indonesia,
2. Yang sedang berlaku atau nyata-nyata berlaku di Indonesia , atau
3. Yang berlaku selama eksistensi negara Indonesia sampai sekarang.
Sebagai jalan tengah, agar tidak berkurang arti dan bobot istilah yang dipermasalahkan, ada baiknya, dipakai istilah sistem politik Indonesia. dari sudut argumen inilah dapat dinyatakan bahwa sistem politik di Indonesia lebih sempit cakupannya dari pada sistem politik Indonesia kecuali apabila penafsirannya mencakup ketiga hal yang tersebut di atas.
Kemudian dapat diuraikan lebih lanjut bahwa pada sistem politik Indonesia akan ditemui faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Suatu sistem, termasuk sitem politik, harus secara terbuka menerima pengaruh lingkungannya, disamping juga dapat mengubah lingkungannya.
Lingkungan intra-masyarakat yang berpengaruh terhadap sistem politik Indonesia antara lain juga memuat landasan rohaniah bangsa, falsafah negara, doktrin politik, ideologi politik, dan sistem nilai. Dengan demikian imbuhan kata Indonesia membawa konsekuensi yang lebih luas dari pada imbuhan kata di Indonesia yang bisa ditafsirkan secara temporer.
Sifat-sifat negara Indonesia termaksud di atas antara lain mengandung unsur: falsafah, gagasan, cita-cita, nilai-nilai, doktrin atau wawasan yang melekat pada Indonesia.
Dengan demikian sistem politik di Indonesia adalah sistem politik yang berlaku atau sebagaimana adanya di Indonesia, baik seluruh proses yang utuh maupun hanya sebagian saja. Sedangkan sistem politik Indonesia adalah yang dikategorikan dan berfungsia sebagai mekanisme yang sesuai dengan dasar negara, ketentuan konstitusional maupun juga memperhitungkan lingkungan masyarakatnya secara riil.
Senin, 23 Januari 2012
Kamis, 05 Januari 2012
Wajib Pajak
Pajak adalah kontribusi wajib kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dengan adanya pajak ini, menimbulkan seseorang untuk membayar pajak. Dimana
yang wajib membayar pajak ini disebut dengan wajib pajak. Besar kecilnya pajak
yang dibayarkan setiap individu pasti berbeda, karena penghasilan dan kemampuan
setiap individu dalam setiap negara itu berbeda.
Namun, meskipun pembayaran pajak
sesuai dengan kemampuan masing-masing setiap warganegara, dengan jumlah yang
tidak terlalu besar, tetapi masih banyak yang belum menyadari dan memahami akan
fungsi pajak itu. Sehingga tidak sedikit yang tidak pernah membayar pajak
terhadap negara.
Dalam hal ini
pula seberapa jauh kesadaran masyarakat terhadap pajak, karena setiap warga negara mulai saat
dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan
dari pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak.
Dengan demikian jelas bahwa peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi
sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan
pembangunan. Disamping fungsi budgeter (fungsi penerimaan), pajak juga
melaksanakan fungsi redistribusi pendapatan dari masyarakat yang mempunyai
kemampuan ekonomi yang lebih tinggi kepada masyarakat yang kemampuannya lebih
rendah.
Oleh karena itulah pemerintah saat ini lebih meningkatkan lagi
peraturan – peraturan tentang pajak. Pemerintah mengadakan peningkatan
jumlah Wajib Pajak secara jabatan. Yang dimaksud NPWP secara jabatan
adalah Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan NPWP kepada orang pribadi
atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, namun yang
bersangkutan tidak mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal
Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat
kedudukan Wajib Pajak. Berdasarkan data (pemilik tanah dan bangunan
mewah, kapal pesiar, pemegang saham, dan lain-lain) yang dihimpun dari
berbagai macam sumber (Pemda, Imigrasi, Dispenda, Bea Cukai dan
lain-lain) maka Ditjen Pajak mengirimkan NPWP kepada masing-masing orang
yang datanya tersimpan tersebut yang kemudian disebut NPWP secara
jabatan. Dalam surat itupun disebutkan kewajiban-kewajiban perpajakan
yang harus dipenuhi oleh WP (misalnya: pasal 21, pasal 25, pasal 29 dan
lain-lain). Program ini sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2001
namun lebih dintensifkan lagi secara masal pada tahun 2005 lalu dengan
maksud untuk menaikkan jumlah Wajib Pajak menjadi 10 juta.
Dengan kebijakan tersebut, Pemerintah berharap Masyarakat Indonesia
semua memiliki kesadaran akan Wajib Pajak. Hal itu dapat membantu
pertumbuhan Negara Indonesia untuk menjadi lebih maju dan lebih
berkembang.
Jumat, 16 Desember 2011
Apa Fungsi dari Partai Politik itu?
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik adalah
bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik yang menyangkut proses
menentukan tujuan-tujuan dari
sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.
Pengambilan keputusan mengenai
apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi terhadap
beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih. Sedangkan untuk
melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan umum yang
menyangkut pengaturan dan pembagian atau alokasi dari sumber-sumber yang ada.
Kita ketahui bahwa dalam demokrasi, partai berada dan
beroperasi dalam suatu sistem kepartaian tertentu. Setiap partai merupakan
bagian dari sistem kepartaian yang diterapkan di suatu negara. Dalam suatu
sistem tertentu, partai berinteraksi dengan sekurang-kurangnya satu partai lain
atau lebih sesuai dengan konstruksi relasi regulasi yang diberlakukan. Sistem
kepartaian memberikan gambaran tentang struktur persaingan di antara sesama
partai politik dalam upaya meraih pemerintahan. Sistem kepartaian yang
melembaga cenderung meningkatkan stabilitas politik dan efektifitas
pemerintahan.
Sistem kepartaian itu sendiri seharusnya tidak terlalu
terfragmentasi. Hal ini dapat mendorong konflik dan bahkan kemacetan demokrasi.
Tingkat fragmentasi dalam sistem kepartaian, dalam hal ini jumlah partai
politik yang relevan dalam sebuah sistem, mungkin paling berpengaruh terhadap
struktur persaingan antar-partai, interaksi dan stabilitas pemerintah.
Lalu sering kita dengar
pendapat bahwa partai politik adalah salah satu komponen yang
penting di dalam dinamika perpolitikan sebuah bangsa. Partai politik dipandang
sebagai salah satu cara seseorang atau sekelompok individu untuk meraih
kekuasaan.
Namun dibalik semua itu
partai politik memiliki tugas dan fungsi sebagai sebuah instrumen
politik diantaranya. Pertama, melakukan sosialisasi politik, pembentukan sikap
dan orientasi politik para anggota masyarakat. Kedua, rekrutmen politik yaitu seleksi dan
pemilihan atau pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan
sejumlah peranan dalam sistem politik.
Ketiga, partisipasi politik, kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan umum dan ikut menentukan pemimpin pemerintahan. Keempat, pemandu kepentingan, mengatur lalu lintas kepentingan yang seringkali bertentangan dan memiliki orientasi keuntungan sebanyak-banyaknya.
Kelima, komunikasi politik, partai politik melakukan proses penyampaian informasi mengenai politik dari pemerintah kepada masyarakat dan dari masyarakat kepada pemerintah. Keenam, pengendalian konflik, partai politik melakukan pengendalian konflik mulai dari perbedaan pendapat sampai pada pertikaian fisik antar individu atau kelompok. Ketujuh, Kontrol politik, partai politik melakukan kegiatan untuk menunjukan kesalahan, kelemahan dan penyimpangan dalam isi kebijakan atau pelaksaan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
Ketiga, partisipasi politik, kegiatan warga negara biasa dalam mempengaruhi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan umum dan ikut menentukan pemimpin pemerintahan. Keempat, pemandu kepentingan, mengatur lalu lintas kepentingan yang seringkali bertentangan dan memiliki orientasi keuntungan sebanyak-banyaknya.
Kelima, komunikasi politik, partai politik melakukan proses penyampaian informasi mengenai politik dari pemerintah kepada masyarakat dan dari masyarakat kepada pemerintah. Keenam, pengendalian konflik, partai politik melakukan pengendalian konflik mulai dari perbedaan pendapat sampai pada pertikaian fisik antar individu atau kelompok. Ketujuh, Kontrol politik, partai politik melakukan kegiatan untuk menunjukan kesalahan, kelemahan dan penyimpangan dalam isi kebijakan atau pelaksaan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.
Yang menjadi
persoalannya adalah apakah partai politik mampu menjalankan peran representasinya
dalam mempertahankan eksistensinya sebagai parpol ataukah tidak? Kalau
jawabannya mampu, berarti parpol tersebut telah mampu menjadi partai politik
yang telah mendapat kepercayaan dari masyarakat dan akan mampu bersaing dengan
parpol-parpol lainnya, sebaliknya jika parpol tersebut tidak atau kurang mampu
menjalankan peran representasinya dengan baik, maka cepat atau lambat parpol
tersebut akan memasuki masa kolaps dan berarti tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap parpol juga akan semakin berkurang.
Sabtu, 03 Desember 2011
Manifestasi QS Ali Imran 110 dan Pendidikan
Lagi krisis ide, jadi saya postkan tugas tutorial semester pertama saya ini. semoga bermanfaat....... Amien.
Pendidikan seharusnya, dalam
tataran ideal, mestilah menjadi kebutuhan
yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Apabila kita telah berbicara
kebutuhan, maka manusia menjadi tidak bisa hidup tanpanya. Pendidikan tentunya
merubah pola pikir dan kemampuan manusia untuk hidup dengan lebih cerdas.
Mereka memiliki sebuah keahlian yang diharapkan dapat digunakan untuk
sekedar mempertahankan hidup atau, bahkan sangat diharapkan, mereka menggunakan
kemampuan yang mereka miliki tersebut untuk berbuat lebih dan bermanfaat bagi
orang di sekitar mereka.
Orang-orang terdidiklah,
apalagi kaum muda, yang diharapkan dapat menjadi generasi pelurus, tidak
hanya penerus yang hanya meneruskan apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang
mereka. Ada semacam usaha-usaha untuk berbuat lebih, mamberi makna yang lebih
berarti dalam kehidupan mereka. Para insan terdidik seperti definisi yang kita
sepakati disini, adalah mereka yang memiliki semangat untuk merubah. Semangat
untuk bisa berkontribusi bagi apapun Orang-orang seperti ini lahir dari
rahim-rahim semangat dan idealisme para pahlawan bangsa. Maka tidak berlebihan
pula sekiranya menyebut golongan seperti ini sebagai pahlawan muda.
Mendengar kata pahlawan
tentunya menginspirasi kita mengenai apa saja job description yang mereka pegang. Menjadi penerang di
saat gelap, pelindung bagi yang lemah, pembela kebenaran di saat kebenaran itu
hanya berdiri sendiri, dan mencegah apabila mungkar mulai meraja-lela di dalam
hati-hati manusia.
Pembahasan tidak berhenti
sampai disini. Ada hal substansial lagi yang sesungguhnya melingkupi
segala landasan berpikir ini. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat
110, yang artinya:
“kamu sekalian (umat Islam)
adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh
(berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada
Allah…”
Perkataan Dzat Yang Maha Agung
diatas, tentunya menjadi sesuatu yang tidak bisa disangkal-sangkal lagi, bahwa
hakekatnya, kita umat Islam adalah umat terbaik yang sengaja dilahirkan ke muka
bumi ini untuk melakukan kerja-kerja besar pahlawan. Merekalah yang tnidak
tenang melihat nasib bangsa yang terus dilanda masalah, merekalah yang tidak
tenang apabila hidup mereka hanya menjadi beban bagi orang lain tanpa
memberikan manfaat apapun.
Maka sesuatu yang patut untuk
kita syukuri dengan tidak henti-hentinya bahwa kita bisa menjadi satu bagian
dari umat terbaik yang pernah diciptakan Allah subhana wa ta’ala ini.
Bayangkan, dengan kita tetap menjadi seorang muslim saja, kita adalah umat
terbaik yang pernah ada. Apalagi apabila kita memiliki tools tambahan
yang dapat menyokong tugas-tugas kita.
Analoginya bisa kita kembangkan
dengan lebih jauh. Apabila menjadi seorang muslim saja kita telah dibai’at
sebagai umat terbaik, apalagi dengan tambahan modal lain yang patut untuk kita kembangkan.
Di awal pembahasan ini, telah
kita yakini bahwa pendidikan merupakan hal yang mau tidak mau haruslah dienyam
oleh seluruh umat di dunia. Bahkan satu poin dari sekian penjabaran Human
Rights sekalipun, menempatkan pendidikan sebagai satu hak wajib yang harus
diterima oleh umat se-dunia. Sebab, memang, pendidikan hakekatnya adalah modal
dasar yang mesti ditanam oleh manusia sehingga dengan hasil yang mereka tuai
itu, dapat menjadi amunisi-amunisi intelektual yang mengisi selongsong senjata
kehidupan mereka. Yang dengan senjata yang mereka miliki itu, ada target jelas
yang mesti mereka kunci untuk ditembakkan dan memberikan ledakan besar bagi
sasarannya. Namun karena amunisi senjata mereka adalah kecerdasan dan kemauan
untuk bermanfaat, maka sasaran-sasaran tembak mereka tidak akan merasakan sakit
dan penderitaan tapi adalah kesejukan dan kedamaian yang mereka dapatkan dari
para pahlawan yang menyelamatkan mereka. Inilah yang dinamakan sebagai seorang
muslim, yang dengan keislaman mereka saja mereka telah menjadi insan terbaik,
ditambah lagi dengan benih baru (pendidikan) yang mereka tanamkan di lahan hati
yang subur dari seorang umat terbaik. Sungguh luar biasa scenario penciptaan
Allah ini.
Agar selesai sampai pada akhir,
mari kita tilik sekali lagi firman Allah pada surat Ali Imran ayat 110 yang
telah dibahas sebagian di atas.
“kamu sekalian (umat Islam)
adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah…”
Demi melengkapi kesempurnaan
seorang muslim, maka Allah memberi standar tersendiri bagi umat terbaik
tersebut. Umat terbaik mestilah menunjukkan gelagat terbaik pula. Ia
haruslah bersifat dan berperilaku mulia. Membawa orang lain ke dalam kehidupan
yang lebih baik, membuat mereka berbuat dengan lebih baik pula. Tidak sekadar
mengajak kepada kebaikan, namun juga mencegah pribadi ataupun komunitas di
sekitarnya agar tidak berbuat jahil. Atau dalam bahasa Qur’an yang disebut
dengan ta’muruuna bil ma’ruuf wa tanhauna ‘anil munkar, dan tentu saja wa
tu’minuuna billah.
Benang merah dari semua ini
sepertinya sudah jelas, bahwa umat Islam haruslah menjadi seorang intelektual
yang bernilai dan bermanfaat bagi orang sekitar, yang sekali lagi dengan keislamannya
membawa atmosfer perubahan yang nyata, dan dengan pendidikan serta keahlian
yang ia miliki membawa nilai tambah yang signifikan untuk umat. Itulah pahlawan
yang sesungguhnya dari kumpulan orang-orang terbaik.
Selasa, 22 November 2011
Penyebab Kekalah Timnas di Final Sea Games
Kekalahan Timnas U-23 Indonesia dari Malaysia menambah kesedihan bagi
seluruh warga Negara Indonesia terlebih suporter fanatik Timnas
Indonesia.
Pertandingan Final Sepakbola SEA Games yang dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (21 November 2011) dipadati kurang lebih 80ribu penonton, dan hampir mayoritas penonton adalah warga Negara Indonesia. Harapan ingin melihat Tim Sepakbola Indonesia meraih gelar ternyata belum tercapai.
Inilah beberapa alasan atau penyebab kenapa Timnas kita kalah lagi untuk yang kedua kalinya, dan alasan ini Saya peroleh dari pengamatan langsung oleh mata dan kepala saya sendiri yang melihat langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pertandingan antara Timnas U-23 Vs Malaysia.
Pertama, alasannya karena ulah dari suporter Timnas Garuda itu sendiri, kenapa karena ketika Timnas Malaysia menyanyikan lagu kebangsaannya suporter kita menghina dan mengganggunya. Dan hal tersebut menjadikan Malaysia menjadi Termotivasi, kita lihat satu contoh ketika pertandingan liga inggris antara Liverpool melawan Chelsea, Liverpool bangkit ketika Chelsea memasukan Torres dan Mireles dan itu membuat Liverpool termotivasi untuk memenangkan pertandingan tersebut, dan hasil terakhir Liverpool menang dengan sekor 2-1. jadi motivasi yang didapatkan oleh Malaysia karena ulah suporter kita sendiri.
Yang kedua yang menjadi alasan kekalahan Timnas yaitu kurangnya konsentrasi ketika Timnas telah unggul. Inkonsistensi diperlihatkan Garuda muda pada saat situasi sedang unggul juga terlihat pada pertandingan sebelum-sebelumnya melawan Thailand dan Singapura. Thailand dan Singapura dengan kondisi kekurangan pemain (akibat kartu merah) bisa merepotkan lini tengah dan belakang Indonesia. Tentu saja ini bukan hal yang baik bagi Garuda Muda kedepannya. Seharusnya dengan situasi unggul atas lawan, kita harus lebih fokus pada semua lini. Kedisiplinan dalam menjaga pemain lawan sangat diperlukan pada saat situasi sedang unggul, apalagi cuma unggul 1-0. Yang saya pribadi sesalkan pada pertandingan Final Sea Games ini adalah kelengahan Garuda Muda Indonesia dalam mengatasi situasi yang sedang unggul atas lawan. Pertandingan sepakbola berlangsung selama 90 menit, bukan hanya 20 menit awal.
Semoga kekalahan ini tidak menjatuhkan semangat juang skuad merah putih. Tidak menyurutkan dukungan masyarakat terhadap timnas. Serta Timnas U23 “Garuda Muda” Indonesia mampu berbenah diri dengan menjadikannya sebagai motivasi, modal serta pelajaran berharga untuk pada akhirnya keluar menjadi juara.
"Ketika anda Kalah, anda harus cepat melupakannya dan konsentrasi berlatih untuk memenangkan turnamen selanjutnya" (Jose Mourinho - Real Madrid Coach)
Pertandingan Final Sepakbola SEA Games yang dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (21 November 2011) dipadati kurang lebih 80ribu penonton, dan hampir mayoritas penonton adalah warga Negara Indonesia. Harapan ingin melihat Tim Sepakbola Indonesia meraih gelar ternyata belum tercapai.
Inilah beberapa alasan atau penyebab kenapa Timnas kita kalah lagi untuk yang kedua kalinya, dan alasan ini Saya peroleh dari pengamatan langsung oleh mata dan kepala saya sendiri yang melihat langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pertandingan antara Timnas U-23 Vs Malaysia.
Pertama, alasannya karena ulah dari suporter Timnas Garuda itu sendiri, kenapa karena ketika Timnas Malaysia menyanyikan lagu kebangsaannya suporter kita menghina dan mengganggunya. Dan hal tersebut menjadikan Malaysia menjadi Termotivasi, kita lihat satu contoh ketika pertandingan liga inggris antara Liverpool melawan Chelsea, Liverpool bangkit ketika Chelsea memasukan Torres dan Mireles dan itu membuat Liverpool termotivasi untuk memenangkan pertandingan tersebut, dan hasil terakhir Liverpool menang dengan sekor 2-1. jadi motivasi yang didapatkan oleh Malaysia karena ulah suporter kita sendiri.
Yang kedua yang menjadi alasan kekalahan Timnas yaitu kurangnya konsentrasi ketika Timnas telah unggul. Inkonsistensi diperlihatkan Garuda muda pada saat situasi sedang unggul juga terlihat pada pertandingan sebelum-sebelumnya melawan Thailand dan Singapura. Thailand dan Singapura dengan kondisi kekurangan pemain (akibat kartu merah) bisa merepotkan lini tengah dan belakang Indonesia. Tentu saja ini bukan hal yang baik bagi Garuda Muda kedepannya. Seharusnya dengan situasi unggul atas lawan, kita harus lebih fokus pada semua lini. Kedisiplinan dalam menjaga pemain lawan sangat diperlukan pada saat situasi sedang unggul, apalagi cuma unggul 1-0. Yang saya pribadi sesalkan pada pertandingan Final Sea Games ini adalah kelengahan Garuda Muda Indonesia dalam mengatasi situasi yang sedang unggul atas lawan. Pertandingan sepakbola berlangsung selama 90 menit, bukan hanya 20 menit awal.
Semoga kekalahan ini tidak menjatuhkan semangat juang skuad merah putih. Tidak menyurutkan dukungan masyarakat terhadap timnas. Serta Timnas U23 “Garuda Muda” Indonesia mampu berbenah diri dengan menjadikannya sebagai motivasi, modal serta pelajaran berharga untuk pada akhirnya keluar menjadi juara.
"Ketika anda Kalah, anda harus cepat melupakannya dan konsentrasi berlatih untuk memenangkan turnamen selanjutnya" (Jose Mourinho - Real Madrid Coach)
Jumat, 18 November 2011
Kekalahan Timnas U-23
Kekalahan Timnas
sepakbola U-23 Indonesia di tangan Malaysia dalam lanjutan penyisihan group A
di event Sea Games kemarin, membuat publik Indonesia harus gigit jari dan
menerima tamparan keras dari musuh bebuyutan tersebut. Sebab ini merupakan
kekalahan yang kedua kalinya di ajang yang berbeda untuk timnas garuda oleh
Malaysia, yang pertama ketika timnas senior dikalahkan di final Piala AFF dan
yang kedua kemarin petang garuda muda ditekuk dengan skor 0-1 oleh Malaysia
U-23.
Yang menjadi
sebab kenapa publik Indonesia seperti mendapatkan tamparan keras atas kekalahan
dari Malaysia yaitu karena kekalahan dari Malaysia sama halnya dengan kita
mendapatkan hinaan dari mantan pacar, serta suami yang diusir dari rumah oleh
istrinya.
Walaupun
kekalahan ini tidak membuat garuda muda tersingkir dari ajang Sea Games
dan menghentikan langkah timnas menuju
semifinal, tapi kekalahan dari tim Malaysia sangat sulit diterima oleh
kebanyakan masyarakat kita. Sebab bukan karena kalah saja tapi karena faktor
lain yang membuat kekalahan dari Malaysia ini sukar untuk diterima, seperti
ulah dari negara tetangga tersebut yang sering mengklaim kebudayaan yang ada di
Indonesia serta pencaplokan sebagian daerah yang ada di Indonesia. itulah
beberapa faktor yang membuat pertandingan dalam cabang olahraga yang di
pertandingkan di ajang Sea Games antara Indonesia melawan Malaysia menjadi
panas dan membuat para atlit sangat emosional bahkan bukan hanya para atlit
yang sangat emosional, penonton pun sangat bersemangat dalam memberi dukungan
untuk kemenangan Indonesia. Sehingga kemenangan atas Malaysia adalah harga mati
yang tidak bisa di ganggu gugat.
Semoga kekalahan
ini tidak menjatuhkan semangat juang skuad merah putih di semi final. Tidak
menyurutkan dukungan masyarakat terhadap timnas di semifinal dan Insya Allah,
final. Lebih dari semua itu, Rahmad Darmawan harus membuktikan bahwa
strateginya lawan Malaysia memang tepat.
Senin, 14 November 2011
Tentang Sea Games, Nasionalisme dan Politik
Akhir-akhir
ini Sea Games menjadi trending topic dalam dunia maya maupun dalam dunia nyata
dalam kehidupan sehari-hari. Sea Games adalah ajang olahraga yang diadakan
setiap dua tahun dan melibatkan 11 negara di Asia Tenggara. Dan kali ini
Indonesia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menjadi tuan rumah bagi ajang bergengsi
ini. Kesempatan menjadi tuan rumah di ajang Sea Games ini dapat memberikan kita
pelajaran yang sangat besar yaitu dimana kita melatih atau merasakan sikap
kebanggaan kita terhadap Negara atau sikap nasionalisme. Dua hal yang berbeda
dari Sea Games dengan nasionalisme, Sea Games suatu ajang olahraga dan
nasionalisme adalah suatu paham semangat kebangsaan. Namun dari adanya Sea Games
dan kesempatan Indonesia menjadi tuan rumah ini merupakan salah satu cara kita
melihat sejauh mana rasa nasionalisme yang ada dalam diri kita.
Untuk
para atlet sendiri yang berlaga di Sea Games pun sebelum berlangsungnya event
tersebut telah dilatih mental oleh tentara Pasukan Komando Khusus (Pusdikpassus),
Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Untuk membangun rasa nasionalisme saat
berjuang di SEA Games 2011, atlet-atlet yang bakal berlomba mendapat pelatihan
fisik dan mental dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Para atlet tersebut,
tidak terkecuali para pesepakbola timnas U-23
mendapat materi wawasan kebangsaan dan bela negara. Mereka diharapkan akan
tampil mati-matian untuk meraih gelar juara bagi Indonesia.
Namun
pertanyaannya adalah, apakah kita tetap bangga jika Indonesia sedang tidak
berlaga di ajang olahraga sejenis Sea Games ini? dan apakah kita tetap
mendukung Indonesia dengan semangat kebangsaan seperti saat Indonesia
bertanding melawan negara lain? Serta bagaimana mempertahankan sikap
nasionalisme itu ketika ajang seperti Sea Games ini berakhir?
Selama
17 kali keikutsertaan Indonesia di ajang Sea Games sejak tahun 1977,
Indonesia berhasil menyabet 9 kali predikat Juara umum, tiga di antaranya
diraih pada saat Indonedia sebagai tuan rumah. Yang terakhir dan sudah cukup
lama adalah pada Sea Games ke 19 yang dilangsungkan di Jakarta. Dari fakta
tersebut, Indonesia adalah sangat superior. Satu-satunya pesaing yang layak
diperhitungkan hanya Thailand.
Lalu
apa yang menyebabkan superior Indonesia terhenti sejak tahun 1997? Jawaban yang
paling gampang adalah karena situasi poltik di Indonesia yang sejak itu terus
bergejolak. Orde baru, dengan berbagai kekurangannya, berhasil menjaga
stabilitas politik di tanah air. Dominasi Golkar saat itu menyurutkan semangat
berpolitik. Jabatan bukanlah kursi panas seperti sekarang sehingga menteri di
bidang olah raga, pengurus Koni dan induk-induk cabang olah raga bisa
berkonsentrasi mengurus pekerjaannya tanpa diganggu berbagai kepentingan
politik.
Runtuhnya
Orde Baru pasca Sea Games 19 tahun 1997, kenyataannya telah mengurangi pamor
Indonesia di tingkat Asia tenggara. Pada saat stabilitas politik Indonesia
berada di titik nadir tahun 1999, Indonesia tidak mampu membuktikan sebagai
pemegang sejarah pekan olah raga terbesar di Asia tenggara ini meskipun
perhelatan acaranya dilaksanakan di Brunai Darussalam, yang lokasi geografisnya
berada di wilayah Indonesia.
Memang
untuk menjadi kampiun pada pesta olah raga terbesar di Asia Tenggara ini
dipengaruhi oleh banyak factor. Selain faktor internal berupa kesiapan
kontingen juga terdapat faktor ekseternal yaitu kemajuan olah raga dari
negara-negara tetangga yang menjadi peserta juga.
Kebetulan pesta olah raga dua tahunan ke 26
tahun 2011 kali ini dilangsungkan di Indonesia. Artinya semua faktor
keberuntungan sedang memihak Indonesia. Sebagai tuan rumah, tentunya Indonesia
bisa mengirimkan atlitnya paling banyak, juga untuk cabang olah raga yang akan
diikutinya, status tuan rumah juga tentunya akan memberi semangat lebih karena
akan mendapat dukungan suporter paling banyak.
Dalam pesta olah raga yang di langsungkan di Jakarta
dan Palembang ini, sepertinya tidak ada alasan bagi Indonesia gagal menempati
podium utama sebagai juara umum. Para penanggung jawab olah raga negeri yang
berpenduduk paling banyak di Asia Tenggara ini harus membuktikan bahwa
stabilitas politik tidak mengganggu kinerja mereka. Mari kita buktikan apakah
Menpora Andi Malarangeng lebih kompeten dari Hayono Isman (1993-1998), Akbar
Tanjung (1988-1993) dan Abdul Gafur (1978-1988) yang berhasil memenangi event-event itu secara beruntun atau sebaliknya.
Mudah-mudahan saja bau politik yang sudah
berhembus jauh-jauh hari sejak persiapan acara tersebut dapat dihapus dengan
mengalirnya emas ke pundi-pundi medali yang dapat mengantarkan Indonesia
menjadi juara umum, minimal untuk mengulang keberhasilan tahun 1997. Semoga….
Langganan:
Postingan (Atom)
